Minggu, 08 September 2019

KARAKTERISASI SIFAT FISIOLOGI DAN BIOKIMIA BAKTERI

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Mikroorganisme ditemukan segala tempat, baik itu di tanah, air, udara, kotoran, pada permukaan tubuh dan segala bagian dari lingkungan dipenuhi dengan mikroorganisme. Ahli mikrobiologi melakukan isolasi untuk mendapatkan kultur murni dari suatu mikroorganisme sehingga bisa diidentifikasi dan dipelajari (Cappuccino dan Welsh 2017). Bakteri merupakan mikro uniseluler yang umumnya tidak mempunyai klorofil. Bakteri tersebar luas di alam, baik di dalam tanah, atmosfer, dalam endapan-endapan lumpur, dalam lumpur laut, dalam air, pada sumber air panas, daerah antartika, dalam tubuh manusia, hewan, maupun tanaman. Jumlah bakteri tergantung pada keadaan sekitar. Misalnya, jumlah bakteri di dalam tanah tergantung jenis dan tingkat kesuburan tanah (Hidayat et al. 2006). 
Di alam bakteri dapat bersifat sapotrofik, fotosintetik, autotrofik, atau parasitik. Dengan sifatnya tersebut beberapa bakteri dapat berperan dalam daur unsur dan interaksi dengan organisme lain, serta peran lain yang sangat penting (Irianto 2005). Sifat hidup bakteri secara umum adalah sapotrofik pada sisa buangan hewan ataupun tanaman yang sudah mati, tetapi banyak juga parasitik pada hewan, manusia, dan tanaman dengan menyebabkan banyak penyakit (Suriawiria 2008). 
Bakteri menghasilkan enzim yang dibutuhkan memecah makanan yang terdapat di substrat menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga dapat digunakan dalam proses metabolisme tubuhnya. Enzim yang dihasilkan oleh bakteri digolongkan menjadi dua yaitu enzim ektraseluler dan enzim intraseluler. Enzim ekstraseluler digunakan untuk menghidrolisis nutrien yang ada di media dengan menggunakan enzim hidrolitik dan enzim intraseluler untuk mengoksidasi dan mereduksi senyawa kompleks di dalam tubuh bakteri (Cappuccino dan Welsh 2017).
Karakterisasi bakteri terdiri dari tiga tahap yaitu klasifikasi, nomenklatur, dan identifikasi. Karakterisasi dapat dilakukan berdasarkan sifat yang dimiliki mikroba, seperti sifat sitologi (bentuk sel, gerak, sifat gram, dan endospora), sifat morfologi koloni dan sifat fisiologi. Uji karakterisasi yang biasa dilakukan adalah uji fisiologi yang terdiri dari uji hidrolisis pati, uji hidrolisis lemak, uji hidrolisis protein, uji fermentasi karbohidrat, uji fermentasi gula dan H2S, uji indol, uji methyl red, uji sitrat, uji urease, uji Voges-Proskauer, uji reaksi susu litmus, uji katalase, dan uji oksidase (Cappuccino dan Sherman 1983).
Karakterisasi merupakan tahap yang penting dan menjadi dasar kegiatan identifikasi mikroba. Oleh sebab itu, karakterisasi sifat fisiologi dan biokimia bakteri perlu dilakukan agar hasil uji karakterisasi dapat dijadikan sumber data dalam identifikasi bakteri.

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini adalah agar mahasiswa dapat melakukan karakterisasi sifat fisiologi dan biokimia bakteri.


II. METODE

2.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, 19 Oktober 2017 bertempat di Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Praktikum ini dilaksanakan pada pukul 13.00-15.00 WIB. 

2.2 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan adalah gelas preparat, kertas cakram, ose, inokulum, bunsen, sprayer, tisu, kertas label, pinset, syring, inkubator, tabung reaksi, rak tabung reaksi, kamera, dan spidol. Bahan yang digunakan adalah isolat bakteri A, B dan C, reagen p-aminodimethylanile-oxalat 1%, akuades steril, parafin, H2O2 3%, media O/F, media SIM, media TSA dan media gelatin. 

2.3 Prosedur Kerja
2.3.1 Uji OF
Semua alat dan bahan disiapkan. Kemudian meja dan tangan operator didesinfeksi dengan alkohol 70%. Lalu bunsen dinyalakan dan inokulum dipijarkan. Selanjutnya, tabung yang berisi biakan bakteri dibuka dekat bunsen dan bakteri diambil. Setelah itu, bakteri ditusukkan ke dalam 2 buah media OF yang disimpan dalam tabung reaksi steril masing-masing 1 tusukan. Selanjutnya, pada salah satu media OF diberi parafin sebanyak 0,2 mL lalu tabung ditutup dengan kapas dan direkatkan dengan plastik wrap. Setelah itu, isolat diinkubasi dalam inkubator selama ± 24 jam. Hasil uji dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini.

Tabel 1 Hasil Uji OF
No.
Tanpa parafin
Dengan parafin
Hasil uji
1
Hijau (H)
Hijau (H)
Negatif
2
Kuning (K)
Kuning (K)
Fementatif
3
Kuning (K)
Hijau (H)
Oksidatif
4
Hijau (H)
Kuning (K)
Fermentatif

2.3.2 Uji Motilitas
Semua alat dan bahan disiapkan. Kemudian meja dan tangan operator didesinfeksi dengan alkohol 70%. Lalu bunsen dinyalakan dan inokulum dipijarkan. Selanjutnya bakteri diambil dan dimasukkan ke dalam media SIM kemudian diinkubasi dalam inkubator selama ± 24 jam.

2.3.3 Uji Gelatin
Semua alat dan bahan disiapkan. Kemudian meja dan tangan operator didesinfeksi dengan alkohol 70%. Lalu bunsen dinyalakan dan inokulum dipijarkan. Selanjutnya bakteri diambil dan dimasukkan ke dalam media gelatin. Kemudian media diinkubasi dalam inkubator selama ± 24 jam. Setelah  24 jam, media dimasukkan ke dalam lemari es selama ± 15 menit kemudian media diamati, jika media menjadi cair berarti uji yang dilakukan positif dan jika media masih padat berarti uji yang dilakukan negatif.

2.3.4 Uji Katalase
Semua alat dan bahan disiapkan. Kemudian meja dan tangan operator didesinfeksi dengan alkohol 70%. Lalu bunsen dinyalakan dan ose dipijarkan. Selanjutnya bakteri diambil sebanyak 1 ose dan dioleskan pada gelas objek yang telah diberi H2O2 3% sebanyak 1 tetes. Kemudian reaksi yang terjadi diamati, jika terbentuk gelembung menandakan uji yang dilakukan positif dan jika tidak terbentuk gelembung berarti uji yang dilakukan negatif.

2.3.5 Uji Oksidase
Semua alat dan bahan disiapkan. Kemudian meja dan tangan operator didesinfeksi dengan alkohol 70%. Lalu kertas cakram diambil secara aseptik dan diletakkan di atas gelas objek dan diberi reagen p-aminodimethylaniline-oxalat 1% sebanyak 1 tetes. Selanjutnya bakteri diambil sebanyak 1 ose dan digoreskan pada kertas cakram. Perubahan warna yang terjadi diamati. Jika warna berubah menjadi pink berarti uji positif dan jika tidak terjadi perubahan berarti uji negatif. 

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil
Hasil uji karakterisasi sifat fisiologis dan biokimia berbagai isolat bakteri dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Hasil uji karakterisasi sifat fisiologis dan biokimia berbagai isolat bakteri.
Kel.
Isolat
Uji
Genus
O/F
SIM
Gelatin
Katalase
Oksidase
1
B
Negatif
(-/-)
+
+
-
-
1.  Campylobacter  
2.  Helicobacter  
C
Fermentatif (+/+)
+
-
-
-
1.  Enterococcus  
2.  Anaerobiospirillum  
2
A
Fermentatif (+/+)
-
-
-
-
1.  Aerococcus  
2.  Streptococcus  
3.  Lactococcus  
4.  Gemella p.
5.  Brochothrix
6.  Erysipelothrix
7.  Lactobacillus 
8.  Arachnia  
9.  Bacteroides 
10. Fusobacterium   
B
Fermentatif
(-/+)
+
-
+
+
1.  Listeria
2.  Chromobacterium
3. Vibrio
4. Plesiomonas
5. Aeromonas
3
A
Negatif
(-/-)
-
-
-
-
1.  Kurthia
2.  Eubacterium
3.  Eikenella
C
Negatif
(-/-)
+
-
+
-
1.  Corynebacterium  
2.  Bordetella  
4
A
Fermentatif (+/+)
+
-
-
-
1.  Enterococcus  
2.  Shigella  
B
Negatif
(-/-)
+
+
-
-
1.  Campylobacter  
2.  Helicobacter  
Berdasarkan Tabel 2, diketahui bahwa isolat A ulangan 2 dan 4, isolat B ulangan 2, dan isolat C ulangan 1 merupakan bakteri yang mampu memanfaatkan karbohidrat dan suasana fermentatif (anaerob), sedangkan isolat A ulangan 3, isolat B ulangan 1 dan 2, serta isolat C ulangan 3 tidak mampu memanfaatkan karbohidrat. Isolat A ulangan 2 dan 3 tidak memiliki flagella (tidak motil) sedangkan isolat A ulangan 4, isolat B ulangan 1, 2 dan 4, serta isolat C ulangan 1 dan 3 memiliki flagella (motil). Isolat A ulangan 2, 3 dan 4, isolat B ulangan 2, dan isolat C ulangan 1 dan 3 tidak memiliki enzim proteolitik, sedangkan isolat B ulangan 1 dan 4 memiliki enzim proteolitik. Isolat A ulangan 2, 3 dan 4, isolat B ulangan 1 dan 4, serta isolat C ulangan 1 tidak memiliki enzim katalase sedangkan isolat B ulangan 2 dan isolat C ulangan 3 memiliki enzim katalase. Isolat A ulangan 2, 3 dan 4, isolat B ulangan 1 dan 4, serta isolat C ulangan 1 dan 3 tidak memiliki enzim oksidase sedangkan isolat B ulangan 2 memiliki enzim oksidase. Dari karakter tersebut diperoleh berbagai genus bakteri baik dari golongan bakteri gram positif maupun gram negatif yang memiliki karakter seperti isolat tersebut.

3.2 Pembahasan
Berdasarkan Tabel 2, diketahui bahwa isolat A ulangan 2 dan 4 (Gambar 1a), isolat B ulangan 2, dan isolat C ulangan 1 merupakan bakteri yang mampu memanfaatkan karbohidrat dan suasana fermentatif (anaerob), sedangkan isolat A ulangan 3, isolat B ulangan 1 dan 4 (Gambar 1b), serta isolat C ulangan 3 tidak mampu memanfaatkan karbohidrat. Uji OF dilakukan untuk melihat kemampuan bakteri dalam memanfaatkan karbohidrat secara oksidatif atau fermentatif (Barrow dan Feltham 1993). 
Gambar 1 Hasil uji O/F pada isolat A (a) dan isolat B (b).

Isolat A ulangan 2 dan 3 tidak memiliki flagella (tidak motil) sedangkan isolat A ulangan 4 (Gambar 2a), isolat B ulangan 1, 2 dan 4 (Gambar 2b), serta isolat C ulangan 1 dan 3 memiliki flagella (motil). Uji motilitas dilakukan untuk mengetahui kemampuan mikroorganisme untuk bergerak dengan flagel. Motilitas bakteri dapat diketahui ketika bakteri yang dikultur tidak hanya tumbuh di garis inokulasi (Cappuccino dan Welsh 2017).
Gambar 2 Hasil uji motilitas pada isolat A (a) dan isolat B (b).

Isolat A ulangan 2, 3 dan 4 (Gambar 3a), isolat B ulangan 2, dan isolat C ulangan 1 dan 3 tidak memiliki enzim proteolitik, sedangkan isolat B ulangan 1 dan 4 (Gambar 3b) memiliki aktivitas proteolitik. Uji gelatin dilakukan untuk mengetahui kemampuan bakteri dalam menghasilkan enzim gelatinase. Gelatin merupakan turunan protein dari kolagen yang tidak larut dalam air dingin tetapi larut dalam air panas serta berbentuk gel ketika didinginkan. Pada suhu ruang, gelatin akan berbentuk cair dan akan membeku ketika didinginkan hingga suhu -4 oC. Bakteri proteolitik dapat mencerna protein dan dapat mencairkan gelatin. Gelatin yang cair menandakan adanya aktifitas proteolitik pada bakteri yaitu dengan memproduksi enzim gelatinase (Hemraj et al. 2013).

Gambar 3 Hasil uji gelatin pada isolat A (a) dan isolat B (b)

Isolat A ulangan 2, 3 dan 4 (Gambar 4a), isolat B ulangan 1 dan 4 (Gambar 4a), serta isolat C ulangan 1 tidak memiliki enzim katalase sedangkan isolat B ulangan 2 dan isolat C ulangan 3 memiliki enzim katalase. Uji katalase dilakukan untuk mengetahui keberadaan enzim katalase pada isolat bakteri. Hidrogen peroksida bersifat toksik terhadap sel karena dapat menonaktifkan enzim di dalam sel. Katalase merupakan enzim yang mengkatalis penguraian hidrogen peroksida (H2O2) menjadi air dan oksigen (Fauzan 2009). 
Gambar 4 Hasil uji katalase pada isolat A (a) dan isolat B (b).

Isolat A ulangan 2, 3 dan 4 (Gambar 5a), isolat B ulangan 1 dan 4 (Gambar 5b), serta isolat C ulangan 1 dan 3 tidak memiliki enzim oksidase sedangkan isolat B ulangan 2 memiliki enzim oksidase. Uji oksidase dilakukan untuk mengetahui kemampuan bakteri dalam memproduksi katalase. Oksidasi flavoprotein akan menghasilkan hidrogen peroksida yang bersifat toksik terhadap sel. Hidrogen peroksida dihidrolisis oleh enzim katalase menjadi air dan oksigen (Hemraj et al. 2013). 
Gambar 5 Hasil uji oksidase pada isolat A (a) dan isolat B (b).

Hasil uji fisiologi dan biokimia yang berbeda-beda diduga terjadi karena dapat terjadi karena kualitas media, umur biakan, konsentrasi dan umur reagen yang digunakan serta cara kerja yang aseptik. Media yang tidak sesuai dengan kebutuhan bakteri akan mempengaruhi pertumbuhan bakteri sehingga kemampuan bakteri dalam menunjukkan karakternya menjadi lebih rendah. Konsentrasi dan umur reagen akan berpengaruh terhadap reaksi yang terjadi ketika bakteri diberi perlakuan reagen tersebut. Konsentrasi reagen yang tidak tepat dan umur reagen yang sudah lama akan menyebabkan bias dalam pembacaan hasil uji. Cara kerja saat melakukan uji di laboratorium membutuhkan teknik aseptik sehingga mikroorganisme yang dikultur tidak terkontaminasi oleh mikroorganisme lain. Cappuccino dan Welsh (2017), menyatakan bahwa keberhasilan kultur mikroorganisme dipengaruhi oleh kualitas media, faktor lingkungan, dan teknik kerja aseptik.
Berdasarkan hasil uji tersebut dapat diketahui bahwa bakteri yang memiliki karakter seperti isolat A adalah genus Aerococcus, Streptococcus, Lactococcus, Pediococcus, Gemella, Brochothrix, Erysipelothrix, Lactobacillus, Arcanobacterium, Arachnia, Kurthia, Eubacterium, dan Enterococcus yang termasuk bakteri gram positif serta genus Bacteroides, Fusobacterium, Eikenella dan Shigella yang termasuk bakteri gram negatif. Bakteri Gram negatif genus Campylobacter, Helicobacter, Vibrio, Plesiomonas, Aeromonas, Listeria dan Chromobacterium memiliki karakteri yang hampir sama dengan isolat B. Bakteri Gram positif genus Corynebacterium dan Enterococcus serta Gram negatif genus Bordetella dan Anaerobiospirillum memiliki karakter yang hampir sama dengan isolat C.
Bakteri dari genus Aerococcus, Streptococcus, Lactococcus, Pediococcus, Gemella, Brochothrix, Erysipelothrix, Lactobacillus, Arcanobacterium, Arachnia, Kurthia, Eubacterium, Corynebacterium dan Enterococcus merupakan bakteri Gram positif. Aerococcus, Streptococcus, Lactococcus, Pediococcus, Gemella, Brochothrix, Erysipelothrix, Lactobacillus, Arcanobacterium, Arachnia, Kurthia,, Eubacterium dan Enterococcus mampu memanfaatkan karbohidrat dalam suasana fermentatif, tidak memiliki enzim katalase dan oksidase, serta tidak motil. Corynebacterium mampu memanfaatkan karbohidrat namun ada juga yang tidak, memiliki enzim katalase, tidak motil, dan tidak memiliki enzim oksidase (Barrow dan Feltham 1993). 
Bakteri dari genus Bacteroides, Fusobacterium, Eikenella, Shigella, Bordetella, Anaerobiospirillum, Campylobacter, Helicobacter, Vibrio, Plesiomonas, Aeromonas, Listeria dan Chromobacterium merupakan bakteri Gram negatif. Bacteroides, Fusobacterium dan Shigella mampu memanfaatkan karbohidrat dalam suasana fermentatif. Bakteri tersebut tidak motil, serta tidak memiliki enzim katalase, enzim oksidase. Eikenella tidak mampu memanfaatkan karbohidrat dalam suasana fermentatif, tidak motil, memiliki enzim oksidase namun tidak memiliki enzim katalase. Bordetella tidak mampu memanfaatkan glukosa, tidak motil, memiliki enzim katalase namun tidak memiliki oksidase. Anaerobiospirillum mampu memanfaatkan karbohidrat, motil, serta tidak memiliki enzim katalase dan enzim oksidase. Campylobacter dan Helicobacter tidak mampu memanfaatkan glukosa, motil, memiliki enzim katalase dan oksidase. Vibrio, Plesiomonas, Aeromonas, Listeria dan Chromobacterium mampu memanfaatkan glukosa dalam suasana fermentatif, motil, serta memiliki enzim katalase dan oksidase (Barrow dan Feltham 1993).


IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa telah mampu melakukan karakterisasi sifat fisiologi dan biokimia bakteri. Dari hasil praktikum juga diketahui bahwa isolat A memiliki karakter yang hampir sama dengan bakteri Gram positif genus Aerococcus, Streptococcus, Lactococcus, Pediococcus, Gemella, Brochothrix, Erysipelothrix, Lactobacillus, Arcanobacterium, Arachnia, Kurthia, Eubacterium, dan Enterococcus serta bakteri Gram negatif genus Bacteroides, Fusobacterium, Eikenella dan Shigella. Isolat B memiliki karakter yang hampir sama dengan bakteri Gram negatif genus Campylobacter, Helicobacter, Vibrio, Plesiomonas, Aeromonas, Listeria dan Chromobacterium. Isolat C memiliki karakteri yang hampir sama dengan bakteri Gram positif genus Corynebacterium dan Enterococcus serta Gram negatif genus Bordetella dan Anaerobiospirillum.

4.2 Saran
Pada praktikum berikutnya, diharapkan agar uji yang dilakukan lebih beragam lagi serta menggunakan kit.


DAFTAR PUSTAKA

(Oooppsss... Mohon maaf daftar pustaka tidak saya share karena rawan plagiat, jika ingin daftar pustaka silahkan komen atau via email (Dianslibrary@gmail.com)

Sabtu, 07 September 2019

PENYIAPAN MEDIUM, STERILISASI ALAT DAN BAHAN SERTA ISOLASI BAKTERI DARI LINGKUNGAN AKUAKULTUR

Laporan Praktikum ke- 2                                 Hari/Tanggal : Kamis, 12 Oktober 2017
m.k. Mikrobiologi Akuakultur                         Asisten          : Sri Hariati


                                                                                                           






PENYIAPAN MEDIUM, STERILISASI ALAT DAN BAHAN SERTA ISOLASI BAKTERI DARI LINGKUNGAN AKUAKULTUR










Oleh:
Dian Novita Sari
C151170128
















ILMU AKUAKULTUR
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2017


I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kegiatan kultur mikroorganisme di laboratorium membutuhkan suplai nutrien yang sesuai dengan kebutuhan mikroorganisme tersebut. Kebutuhan nutrien masing-masing mikroorganisme sangat beragam dan pengetahuan tentang prinsip nutrisi mikroorganisme sangat penting dalam menentukan keberhasilan kultur mikroorganisme. Oleh sebab itu dibuatlah beraneka macam media, baik itu media universal maupun media selektif. Media kultur merupakan larutan nutrien yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme. Seleksi dan preparasi media untuk kultur mikroorganisme di laboratorium perlu dilakukan sebaik mungkin dan harus berhasil agar mikroorganisme dapat dipelajari secara lebih detail (Madigan et al. 2015).
Sterilisasi adalah proses penghancuran seluruh bentuk organisme yang dapat hidup, termasuk endospora. Sterilisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya dengan api, panas lembab, panas kering, penyaringan, dan penggunaan bahan kimia beracun. Proses sterilisasi merusak kompenen esensial sel (protein, asam nukleat, atau membrane sitoplasma) sehingga sel menjadi kehilangan fungsinya (Perry et al. 2002).
Mikroba pada suatu lingkungan ditemukan dalam populasi campuran dan sangat jarang ditemukan sebagai satu spesies tunggal. Penelitian mengenai mikroorganisme biasanya memerlukan teknik untuk memisahkan populasi campuran pada permulaannya, atau biakan campuran kemudian dipisah menjadi spesies-spesies yang berbeda-beda sebagai biakan murni. Biakan murni terdiri dari suatu populasi sel yang berasal dari satu sel induk (Prescott 2003).
Keberhasilan kerja dalam laboratorium mikrobiologi tergantung pada kemampuan untuk sterilisasi media, menginokulasi dengan loop, pemeliharaan peralatan kaca, dan segala hal yang berkaitan dengan kultur mikroorganisme (Perry et al. 2002). Isolasi bakteri diperlukan untuk mengetahui jenis bakteri yang terdapat di lingkungan akuakultur sehingga dapat diidentifikasi dan dikarakterisasi. Dengan mengetahui jenis bakteri yang ada di lingkungan akuakultur maka dapat dilakukan tindakan untuk mengendalikan bakteri patogen dan memperbanyak bakteri yang menguntungkan.  Oleh sebab itu, diperlukan suatu kegiatan penyiapan media, sterilisasi alat dan bahan serta isolasi bakteri dari lingkungan akuakultur.

1.2   Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini adalah agar mahasiswa dapat menyiapkan media, sterilisasi bahan dan alat serta mengisolasi bakteri dari lingkungan akuakultur.

II. METODE
2.1  Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, 05 Oktober 2017 bertempat di Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Praktikum ini dilaksanakan pada pukul 13.00 - 15.00 WIB.



2.2  Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan adalah autoklaf, erlenmeyer, timbangan digital, spatula, aluminium foil, gelas ukur, pipet volumetrik, bulb, hot plate, cawan petri, dan tabung ulir. Bahan yang digunakan adalah media TSA (Trypticase Soy Agar), bacto agar, bacto pepton, gliserol, air laut, yeast extract, TCBS (Thiosulphate Citrate Bile Salt Sucrose) agar, dan EMBA (Eosin Methylene Blue Agar), akuades, air sampel dari beberapa jenis air mineral dan beberapa sumber air di sekitar kampus (air kolam bawah, air comberan Bara, air comberan Bateng, air laut, air kosan Bara dan air kamar mandi FPIK).


2.3  Prosedur Kerja
2.3.1   Penyiapan Media TSA (Trypticase Soy Agar)
Semua alat dan bahan disiapkan. Kemudian media TSA ditimbang sebanyak 2 gr dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Kemudian ditambahkan akuades sebanyak 50 mL lalu dipanaskan di atas hot plate selama 30-45 menit. Selama pemanasan, media dihomogenkan secara berkala. Setelah homogen (media berwarna kuning kecokelatan), media disterilisasi dengan autoklaf. Setelah steril, media dituang ke dalam cawan petri dan tabung ulir.

2.3.2   Penyiapan Media SWC (Seawater Complete)
Semua alat dan bahan disiapkan. Kemudian bahan ditimbang (bacto agar 0.85 gr, bacto pepton 0.25 gr, dan yeast extract 0.05 gr. Lalu ditambahkan gliserol sebanyak 0.15 mL, air laut 37.5 mL, dan akuades 12.5 mL. Semua bahan dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan dipanaskan di atas hot plate selama 30-45 menit. Selama pemanasan, media dihomogenkan secara berkala. Setelah homogen (media berwarna kuning), media disterilisasi dengan autoklaf. Setelah steril, media dituang ke dalam cawan petri dan tabung ulir.



2.3.3   Penyiapan Media EMBA (Eosin Methylene Blue Agar)
Semua alat dan bahan disiapkan. Kemudian media EMBA ditimbang sebanyak 1.875 gr dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Kemudian ditambahkan akuades sebanyak 50 mL lalu dipanaskan di atas hot plate selama 30-45 menit. Selama pemanasan, media dihomogenkan secara berkala. Setelah homogen (media berwarna kuning kecokelatan), media disterilisasi dengan autoklaf. Setelah steril, media dituang ke dalam cawan petri dan tabung ulir.



2.3.4   Penyiapan Media TCBS (Thiosulphate Citrate Bile Salt)
Semua alat dan bahan disiapkan. Kemudian media TCBS  ditimbang sebanyak 4.45 gr dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Kemudian ditambahkan akuades steril sebanyak 50 mL lalu dipanaskan di atas hot plate selama 30-45 menit. Selama pemanasan, media dihomogenkan secara berkala. Setelah homogen, media dituang ke dalam cawan petri dan tabung ulir.


2.3.5   Sterilisasi Alat dan Bahan
Semua alat dan bahan yang akan disterilisasi dimasukkan ke panci autoklaf. Sebelum ditutup, volume air di dalam autoklaf dicek terlebih dahulu dan dipastikan termostatnya terendam air. Kemudian panci autoklaf dimasukkan ke dalam autoklaf dan autoklaf ditutup rapat dengan cara pengunci autoklaf diputar searah jarum jam. Selanjutnya tombol pre heating ditekan dan didiamkan hingga uap udara keluar dari corong. Setelah uap udara keluar, corong ditutup dan tombol pre heating dimatikan lalu tombol timer dinyalakan dan waktu autoklaf diatur selama 15 menit. Setelah selesai autoklaf, alarm akan berbunyi dan tombol timer dimatikan. Autoklaf didiamkan hingga suhu dan tekanan di dalam autoklaf turun hingga 0. Setelah suhu dan tekanan menunjukkan angka 0, autoklaf dibuka lalu alat dan bahan dikeluarkan. Alat yang telah disterilisasi dimasukkan ke dalam oven dan bahan langsung digunakan atau didinginkan terlebih dahulu jika ingin disimpan di kulkas.

2.3.6   Isolasi Bakteri
Semua alat dan bahan disiapkan. Kemudian meja dan tangan operator didesinfeksi menggunakan alkohol 70%. Lalu bunsen dinyalakan dan ose dipijarkan hingga memBara. Selanjutnya ose didiamkan sebentar hingga dingin lalu sampel diambil sebanyak 1 ose dan digores ke media yang berada di dalam cawan. Kemudian dilakukan gores kuadran yang dimulai dari kuadran 0 hingga kuadran 3. Setiap perpindahan kuadran, ose dipijarkan hingga memBara lalu didinginkan dan gores kuadran dilanjutkan ke kuadran berikutnya. Setelah selesai digores, media di wrap dan diberi label. Kemudian diinkubasi selama 24 jam di dalam inkubator pada suhu 28-34 oC. Setelah 24 jam dilakukan pengamatan hasil isolasi dan didokumentasikan.

Gambar 1. Skema kuadran dalam penggoresan isolat bakteri.




III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1  Hasil
Hasil pembuatan media dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Media yang telah berhasil dibuat.

Berdasarkan Tabel 1, diketahui bahwa semua media yang telah disiapkan tidak mengalami kontaminasi. Media yang telah disiapkan yaitu media TSA dan EMBA untuk bakteri air tawar dan media TCBS dan SWC untuk bakteri air laut.
Hasil pengamatan isolat bakteri yang diisolasi dari lingkungan akuakultur dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Hasil pengamatan isolat bakteri yang diisolasi dari lingkungan akuakultur.
Berdasarkan Tabel 2, diketahui bahwa dari delapan sumber air, isolasi bakteri hanya berhasil dari empat sumber air, yaitu dari air yang bersumber dari air kamar mandi FPIK, air kolam bawah, air comberan Bara dan air comberan Bateng. Jumlah isolat bakteri yang diperoleh dari air yang bersumber dari comberan Bara sebanyak 2 isolat, sedangkan dari sumber air lainnya hanya diperoleh 1 isolat. Isolat yang diperoleh memiliki warna koloni kuning dan krem, bentuk koloni bulat, tepian koloni entire, dan elevasi reviset dan flat. Jumlah koloni yang ditumbuh dari masing-masing sumber air berbeda-beda, yaitu 6 koloni dari air kolam bawah, 31 koloni dari air comberan Bara, 37 koloni dari air comberan Bateng (3 koloni kuning berwarna dan 34 koloni berwarna krem), dan 6 koloni dari air kamar mandi FPIK.

3.2 Pembahasan
Media terdiri dari media tetap dan media kompleks. Media tetap (media sintetik) adalah media yang komposisinya diketahui secara pasti sedangkan media kompleks adalah media yang komposisinya tidak diketahui secara pasti karena dibuat oleh bakteri pencernaan, seperti kasein, sel ragi, ekstrak daging, dan lain-lain. Media universal dibuat untuk menumbuhkan beberapa jenis bakteri, seperti TSA untuk bakteri air tawar (Haryani et al. 2012) dan SWC untuk bakteri air laut (Tepu 2006). Beberapa media kultur juga dibuat selektif atau diferensial agar bisa melakukan diagnosa mikrobiologi, diagnosa klinis, dan sistematik mikroorganisme. Sebagai contohnya, untuk bakteri Escherichia coli, media spesifik yang digunakan adalah EMBA dan Vibrio menggunakan media TCBS. Pada media EMBA ditambahkan komponen yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain selain E. coli dan Enterobacter. Salah satu indikator dalam media selektif adalah penambahan zat pewarna yang akan bereaksi dengan zat metabolit bakteri (Madigan et al. 2015).
Media kultur harus dibuat steril agar tidak ada mikroorganisme yang tumbuh bebas di dalam media tersebut sehingga mikroorganisme yang diisolasi dan dikultur dapat diinkubasi dalam kondisi yang mendukung pertumbuhan mikroorganisme yang diisolasi tersebut. Media disterilisasi dengan pemanasan di dalam autoklaf. Media kultur yang steril akan memungkin laboran untuk melakukan kultur murni sehingga hasil identifikasi mikroorganisme tersebut lebih akurat. Untuk membuat media yang tidak kontam maka dibutuhkan cara kerja yang aseptik.  Teknik aseptik merupakan suatu teknik untuk mencegah adanya kontaminan selama proses kultur dan pembuatan media (Madigan et al. 2015). Agar media tidak kontam saat pembuatan media, maka alat yang digunakan harus disterilisasi terlebih dahulu.  Larutan media yang telah dibuat juga disterilisasi sebelum dituang ke cawan atau tabung ulir secara aseptik. Teknik aseptik dan kesterilan alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan media sangat menentukan keberhasilan dalam membuat media. Berdasarkan hasil pembuatan media (Tabel 1), media yang dibuat tidak mengalami kontaminasi sehingga proses pembuatan media yang dilakukan berhasil.
Kultur dan identifikasi mikroorganisme, seperti bakteri, perlu dilakukan agar dapat dikultur murni sehingga mikroorganisme tersebut dapat dipelajari secara lebih detail. Isolasi bakteri dapat dilakukan dengan cara cawan gores, pengenceran di media agar, dan pengenceran di media cair. Teknik cawan gores merupakan teknik yang dilakukan untuk mengisolasi bakteri murni atau koloni bakteri dari populasi beragam bakteri dengan teknik pemisahan sederhana (Sanders 2012). Bakteri yang membentuk koloni di media agar lebih mudah diisolasi dengan teknik cawan gores karena lebih cepat, mudah, dan kultur murni lebih mudah didapatkan. Media padat memungkinkan sel-sel bakteri berkembang dan tumbuh sehingga membentuk koloni (Madigan et al. 2015).
Berdasarkan hasil isolasi bakteri (Tabel 2) diketahui bahwa koloni yang tumbuh kebanyakan memiliki warna koloni krem, bentuk koloni bulat, tepian koloni entire, serta elevasi reviset dan flat. Hal ini sesuai dengan pendapat Fitri dan Yasmin (2011), yang menyatakan bahwa karakteristik koloni dari bakteri air tawar adalah berbentuk bulat, tepian entire, dan berwarna putih susu (krem). Dari hasil isolasi juga ditemukan koloni yang berwarna kuning. Perbedaan warna koloni tersebut disebabkan oleh pigmen warna yang dihasilkan oleh bakteri tersebut (Madigan et al. 2015). Lebih lanjut, Madigan et al. (2015) menyatakan bahwa karakteristik koloni mikroba memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda-beda, tergantung pada organisme, kondisi kultur, suplai nutrien, dan parameter fisiologis lainnya.
Jumlah koloni yang ditumbuh dari masing-masing sumber air berbeda-beda, bahkan pada beberapa sumber air tidak ada yang tumbuh. Jumlah koloni yang berbeda kemungkinan disebabkan oleh kepadatan bakteri yang berbeda dari setiap sumber air. Selain itu, beberapa jenis bakteri tidak dapat tumbuh dengan baik pada media tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Perry et al. (2002) yang menyatakan bahwa beberapa bakteri tidak dapat tumbuh dengan baik di permukaan media agar karena komposisi nutrien, kimia, dan fisiologis media serta kondisi saat inkubasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan bakteri. Bakteri yang tidak tumbuh kemungkinan disebabkan oleh teknik pengambilan sampel dengan ose yang masih panas. Penggunaan ose yang masih panas saat pengambilan sampel menyebabkan bakteri dalam sampel tersebut mengalami kematian. Hal ini sesuai dengan pendapat Sanders (2012) yang menyatakan hasil isolasi mengalami kegagalan akibat peralatan yang digunakan kurang steril atau penggunaan ose yang terlalu panas sehingga membunuh bakteri. 



IV. KESIMPULAN DAN SARAN


4.1  Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum, mahasiswa telah mampu menyiapkan media, sterilisasi bahan dan alat serta mengisolasi bakteri dari lingkungan akuakultur.

4.2  Saran
Pada praktikum berikutnya, diharapkan agar media yang digunakan lebih beragam lagi.



V. DAFTAR PUSTAKA

(OOpsss… Maaf daftar pustaka tidak dipublish untuk menghindari plagiat)
Jika butuh daftar pustaka, silahkan komen atau via email dianslibrary@gmail.com

(Semoga bermanfaat…)




Selasa, 27 Agustus 2019

Tugas Resume Ke-9 MK. Sosiologi Umum IPB 2014


Tugas Resume Ke-9                             Hari, Tanggal  : Senin, 21 April 2014

MK. Sosiologi Umum                          Ruang             : RK. CCR 2.05



STRATIFIKASI SOSIAL

Dibuat:

Dian Novita Sari         C14134005



Asisten:

Putri Amalia                H34100066



SITUASI SOSIAL DUA KOMUNITAS DESA DI SULAWESI SELATAN

Oleh: Mochtar Buchori dan Wiladi Budiharga



          Desa Maricaya Selatan terdiri dari lima golongan masyarakat yang menempati tiga lapisan pokok (berdasarkan status sosial dan ekomi), dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Stratifikasi komunitas Maricaya Selatan

Jumlah (%)
Status Sosial
Status ekonomi
10
Pejabat dan kelompok profesional
Atas (Mampu)
60
Alim ulama, pegawai, pedagang
Menengah (Sedang)
30
Buruh
Bawah (Miskin)



          Lapisan sosial tersebut bersifat heterogen dan cukup berlapis mulai memperlihatkan adanya usaha-usaha untuk menciptakan iklim sosial yang lebih cair (fluid). Usaha awal yang terlihat berupa menembus dinding-dinding antar golongan. Penduduk dari golongan mayoritas terlihat cukup terbuka untuk membentuk pola pergaulan sosial yang akrab dengan golongan minoritas, sedangkan kelompok menegah cenderung berusaha untuk mengembangkan pergaulan sosial antar golongan. Bentuk usaha tersebut bersifat formal  (PKK) dan informal (arisan) yang didasarkan pada lingkungan tempat tinggal, tempat kerja, dan sekolah.
          Lapisan atas mendominasi di dua jalan besar di desa tersebut, lapisan menengah di sepanjang jalan kecil, dan lapisan bawah di kampung dekat kuburan. Lapisan atas terdiri dari orang-orang yang berpendidikan tinggi dan merupakan kelompok yang homogen. Lapisan menengah terdiri dari orang-orang yang latar pendidikannya beragam. Pada lapisan bawah, jumlah pelajar yang tidak melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan SD ke jenjang SMP sangat banyak karena keterbatasan ekonomi.
          Media cetak yang beredar dalam masyarakat tersebut adalah koran dan majalah yang umumnya hanya digemari dan dibeli oleh lapisan atas. Minat baca di lapisan menegah terlihat cukup besar karena meraka sering meminjam kepada yang membeli koran dan majalah. Lapisan menengah adalah lapisan yang memiliki TV paling banyak dibandingkan lapisan atas, sedangkan lapisan bawah tidak memiliki TV sama sekali. Bagi mereka yang tidak mampu membeli TV bisa menonton bersama dengan mereka yang memiliki TV sehingga dapat disimpulkan bahwa mereka belum menutup diri dan masih ada keakraban sosial yang bersifat tradisional. Mayoritas masyarakat Maricaya Selatan menganut agama Islam (75.6%), Protestan (20%), Katolik (3.8%), dan sisanya agama Hindu dan Budha.
Desa Polewali (Semi Urban)
          Masyarakat Polewali terdari dari tiga lapisan yaitu lapisan atas (ulama, pemangku adat, dan pejabat), lapisan menengah (pedagan), dan lapisan bawah (buruh) serta secara ekonomi terdiri dari lapisan kaya (35% dari KK), sedang (55% dari KK), dan miskin (10% dari KK). Kedudukan pemangku adat dipegang oleh seorang Bugis, alim ulama dipegang oleh orang Bugis dan Mandar, pejabat dan pegawai dipegang oleh orang Mandar dan Toraja, pedagang dipegang oleh orang Bugis, Jawa, dan Cina, dan kelompok buruh terdiri dari orang Jawa, Makasar, dan Toraja. Pada golongan atas, terdapat gaya hidup yang berbeda. Golongan alim ulama terlihat hidup sederhana, sedangkan golongan pejabat terlihat hidup mewah.
          Dalam masyarakat Polewali, pendidikan adalah suatu hal yang dijunjung tinggi. Hal tersebut terjadi karena pendidikan merupakan sarana untuk mendapatkan status sosial. Kebanyakan masyarakat Polewali memeluk agama Islam yang ajarannya dipraktekkan dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat Polewali pada dasarnya merupakan masyarakat yang lugas mengisi kehidupan dengan berbagai usaha untuk menghadapi dan menyelesaikan permasalahan. Mereka lebih bersifat inward looking, kecuali pada golongan pejabat setempat yang cenderung mengumpulkan simbol kemewahan (modernitas).

Daftar Pustaka
Tim Pengajar. 2007/2008. Modul Praktikum Sosiologi Umum Mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama Institut Pertanian Bogor. Bogor: Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.


Sabtu, 24 Agustus 2019

Prosedur Pengukuran Kadar Glukosa Darah Ikan

Assalamu'alaikum Wr. Wb….


Haaii good reader...
Kali ini Saya akan berbagi cara atau prosedur pengukuran kadar glukosa darah. Btw.. just for information, sampel yang Saya gunakan adalah sampel darah dari ikan. 

Namun… Sebelum membahas prosedurnya, tentunya kita harus tahu dulu tujuan pengukuran kadar glukosa darah. Pada manusial, glukosa darah sering dipantau untuk mencegah dan mengontrol kadar gula dalam darah, biar gag kena diabetes. Sedangkan pada hewan, glukosa darah diamati untuk melihat respon perlakuan pakan, respon stres dan status kesehatan. Kadar glukosa darah meningkat pascapemberian pakan (hingga jam tertentu), terjadi stres atau penyakit (baik akibat penyakit infeksius maupun noninfeksius). Soooo... intinya glukosa darah diamati untuk melihat status kesehatan.

Prosedur Pengukuran kadar glukosa darah yang biasa digunakan adalah metode spektrofotometri dari Bapak Wedemeyer dan Bapak Yasutake (1977). Prosedur ini cukup mudah, namun kalau menurut Saya sedikit kurang nyaman dikerjakan karena menggunakan asam asetat glasial (jadi good reader harus hati-hati).

Bahan yang dibutuhkan:
1. Sampel darah
2. D-glukosa
3. Asam asetat glasial
4. Akuades
5. Ortho-toluidine

Alat yang digunakan:
1. Pipet
2. Bulb
3. Tabung reaksi
4. Waterbath
5. Spektrofotometri
6. Centrifuge
7. Gelas piala
8. Rak tabung reaksi
9. Mikropipet
10. Mikrotip

Preparasi sampel:
1. Ikan dipingsankan terlebih dahulu (Good reader harus memperhatikan kode etik ANIMAL WELFARE). Kemudian darah diambil, biasanya dari pembuluh vena di pangkal ekor, menggunakan syringe (spuit) yang sudah dibilas dengan antikoagulan (biar darahnya gag beku). 
2. Sampel darah dimasukkan ke tabung mikro yang sudah dibilas dengan antikoagulan.
3. Sampel darah dicentrifuge dengan Kecepatan 3000 rpm atau 1000 g selama 10 menit.
4. Plasma darah (supernatant/ cairan) diambil dan dipindahkan ke tabung mikro yang baru.





5. Plasma darah siap digunakan. Jika analisis tidak bisa langsung dikerjakan, plasma darah disimpan pada suhu -20 °C hingga analisis dilakukan.

Pembuatan larutan standar:
Larutan standar yang digunakan adalah larutan glukosa yang kadarnya sudah diketahui. Larutan standar yang biasa digunakan adalah 50, 100, 200, dan 400 mg. 100 mL-1. Larutan standar dibuat dengan cara:
1. D-glukosa ditimbang sesuai kebutuhan. Contohnya 50 mg.100 mL-1, maka D-glukosa ditimbang sebanyak 50 mg dan dilarutkan dalam akuades 100 mL.
2. Larutan dihomogenkan. Sisa larutan bisa disimpan di kulkas (suhu 4 °C).

Pembuatan reagen Ortho-toluidine:
1. Asam asetat glasial sebanyak 94 % ditambahkan Ortho-toluidine 6 %. Contohnya:
Total volume yang akan dibuat 100 mL, maka Asam asetat glasial yang dibutuhkan:
94 % x 100 mL = 94 mL dan Ortho-toluidine yang dibutuhkan 6 % x 100 mL = 6 mL
2. Larutan tersebut kemudian dihomogenkan.

Pengukuran kadar glukosa:
1. Tabung reaksi diisi dengan 3.5 mL reagen Ortho-toluidine.
2. Ditambahkan plasma darah 50 μL. Untuk larutan blanko dan standar digunakan akuades  50 μL (larutan blanko) dan larutan standar glukosa  50 μL (larutan standar). Larutan blanko digunakan untuk me-nol-kan alat (kalibrasi).
3. Tabung reaksi ditutup.
4. Sampel diinkubasi di waterbath suhu 100-110 °C selama 10 menit.
5. Sampel didinginkan hingga suhu ruang.
6. Absorbansi sampel diukur menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang (λ) = 635 nm.

Perhitungan kadar glukosa:

Glukosa darah (mg.100 mL-1) 

= ((Abs sampel - Abs blanko)/(Abs standar-Abs blanko)) x 100 mg.dL-1
                    = ((0,416-0,233)/(0,547-0,314)) x 100 mg.dL-1
                    = 58,28 mg.dL-1 = 58,28 mg.100 mL-1

Ket:
Abs: Absorban 
Jumlah glukosa dalam larutan standar = 100 mg.dL-1



Cukup mudah kan good reader. Gitu doang kok… heheh. 
Untuk tutorial lainnya bisa cek channel YouTube KUPU-KUPU FIGTER.
Cukup sekian. 
Selamat mencoba..


Wassalamu'alaikum Wr.Wb...

Apa Itu PCR? Penjelasan Sederhana tentang Teknologi PCR

PCR atau Polymerase Chain Reaction adalah salah satu teknologi penting dalam biologi molekuler. Teknik ini digunakan untuk memperbanyak (me...